Senin, 03 November 2014

Mengkonversi Pantun ke Bentuk Cerpen - Satpam Perumahan Mewah

Aku merupakan satpam penjaga Perumahan, Tugas ini berat tetapi kujalani dengan senang hati. Kkini aku memiliki Tugas baru, Tugasku mengawasi seorang Gadis kemanapun ia pergi. Dia bernama Astuti. Dia merupakan anak dari Bos Property Mewah. Suatu hari saat aku mengawasinya dia menegurku katanya,
“Surya, kenapa kamu membuntuti aku kemanapun aku pergi?”
“Maaf non, aku tidak membubtutimu.” Jawabku gugup.
“Bohong, Pasti kamu ada maunya. Jangan – Jangan kamu akan merebutku dari Fahmi? Ingat Surya kamu itu siapa? Hanya satpam kamu itu Tahu dirilah!” Cemoohnya padaku.
Aku hanya diam melihatnya, hati ini terasa sakit seperti teriris rasanya. Jika dia bukan anak Bosku dia sudah aku tampar keras sekali.

                Suatu hari kulihat Fahmi pacar Astuti menggandeng perempuan lain. Segera aku mengatakannya pada astuti, dia tak pecaya.
“Maaf non, Fahmi sudah beristri itu benar adanya dan tidak ada yang mengada – ada.” Kataku padanya.
“Fitnah! Fahmi itu masih bujangan! Sekarang pergilah dari rumah ini! Fahmi bukanlah tandinganmu!” Amuk Astuti padaku.
“Setelah Surya pergi aku merasakan ada sesuatu yang hilang, hatiku menjadi Galau. Apakah aku jatuh cinta padanya? Ada getaran aneh saat kupandangnya.” Gumam Astuti dalam Hati

                Suatu ketika Astuti mendengar dari Ibunya bahwa ia akan dijodohkan dengan Surya tetapi Astuti berkata,
“Dengan Surya? Aku tak sudi Bu! Ini juga bukan zaman Siti Nurbaya lagi!”
Astuti teringat perkataan Surya dulu bahwa Fahmi menggandeng perempuan lain, ia penasaran kemudian ia hubungilah Fahmi tetapi Fahmi tidak bisa dihubungi. Ia terus mencoba sampai Akhirnya teleponnya diangkat,
“Halo, apakah mas Fahmi ada disitu?” Katanya.
“Ya benar sekali, saya Istrinya.” Jawab seseorang dari ujung sana.
Tiba – tiba Astuti menjadi lemas badannya pun lunglai. Hatinya terasa sakit, Pikirannya pun menjadi berantakan.

                Kini suatu kesempatan baik datang pada Surya untuk kembali mengantar Astuti kemanapun ia pergi. Suatu sore saat Astuti menangis dikamarnya, Ayahnya pun datang dan berkata padanya,
“Astuti Anakku, Janganlah kamu menangis lagi. Ayah sudah merestui kamu dengan Surya.”
“Maafkan Astuti Ayah, Astuti belum menyukainya. Hati Astuti masih kelam.” Tolaknya halus.
“Cobalah nak, Kau pikirkan kembali ia adalah satpam, tetapi ia Sarjana S-2 Ekonomi dan ia menjadi manajer di usaha milik papanya.” Kata Ayah Astuti meyakinkannya.
Astuti pin berubah pikiran saat ia mendengar kata –kata Ayahnya tersebut.

“Ayah, sebenarnya hati Astuti sudah dicuri oleh Surya sejak pertamakali kami bertemu.” Kata Astuti dengan mantab untuk meyakinkan Ayahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar