Litotes adalah majas yang menyatakan
kebalikan daripada hiperbola, yaitu menyatakan sesuatu dengan memperkecil atau
memperhalus keadaan. Majas litotes disebut
juga hiperbola negatif.
Contoh:
1.
Tapi, maaf kami tak dapat menyediakan apa-apa. Sekadar air untuk
membasahi tenggorokan saja yang ada.
2.
Tentu saja karangan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
semua kritik dan saran akan saya terima dengan senang hati.
2. Eufimisme
Eufemisme adalah majas kiasan halus
sebagai pengganti ungkapan yang terasa kasar dan tidak menyenangkan. Eufemisme
digunakan untuk menghindarkan diri dari sesuatu yang dianggap tabu atau
menggantikan kata lain dengan maksud bersopan santun.
Contoh:
1. Orang itu memang bertukar
akal. (Pengganti gila)
2. Kalau dalam hutan
jangan menyebut-nyebut nenek. (Pengganti harimau)
3. Pemerintah telah
mengadakan penyesuaian harga BBM. (Pengganti menaikkan)
3. Paradoks
Paradoks adalah pengungkapan terhadap suatu kenyataan yang seolah-olah
bertentangan, tetapi mengandung kebenaran.
Contoh:
1.
Memang hidupnya mewah, mempunyai mobil, rumahnya besar, tetapi
mereka tidak berbahagia. Tidak tahu mengapa, mungkin karena belum
mempunyai anak.
2.
Walaupun ia tinggal di kota besar, kota metropolitan, hiburan ada
di mana-mana, ia bercerita padaku katanya kesepian.
4. Metonimia
Metonimia adalah majas yang memakai nama
ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang atau hal, sesuai
penggantinya.
Contoh:
1.
Ayah suka mengisap gudang garam. (Maksudnya rokok)
2.
Si Jangkung dipakai sebagai sebagai pengganti orang yang
mempunyai ciri jangkung.
5. Klimaks
Majas
Klimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturutturut dan makin lama
makin meningkat.
Contoh:
1.
Semua orang dari anak-anak, remaja, hingga orang tua ikut antri
minyak.
2.
Ketua Rt, Rw, kepala desa, gubernur, bahkan presiden sekalipun tak
berhak mencampuri urusan pribadi seseorang.
6. Antiklimaks
Majas
Antiklimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturutturut yang makin
lama menurun.
a.
Anfora
Majas repetisi yang merupakan perulangan kata pertama pada setiap baris
atau kalimat.
Contoh:
Contoh:
1.
Kucari kau dalam toko-toko.
2.
Kucari kau karena cemas
karena sayang .
3.
Kucari kau karena sayang
karena bimbang.
4.
Kucari kau karena kaya mesti
diganyang.
b.
Epifora
Majas repetisi yang berupa perulangan kata pada akhir baris
atau kalimat.
Contoh:
Contoh:
1.
Ibumu sedang memasak di dapur ketika kau tidur.
2.
Aku mencercah daging ketika kau tidur
7. Paralelisme
Majas yang mengulang ungkapan yang
sama dengan tujuan memperkuat maknanya. Contoh :
1.
Sunyi itu mati, dunyi itu duka, sunyi itu
lupa.
2. Hidup
adalah perjuangan, hidup adalah persaingan, hidup adalah kesia-siaan.
8. Repetisi
Majas perulangan kata – kata sebagai
penegasan.
Contoh :
1.
Selamat tinggal pacarku,
selamat tinggal kekasihku.
2.
Marilah kita sambut pahlawan kita, marilah kita sambut idola kita, marilah
kita sambut putra bangsa.
9. Tautologi
Majas yang
melukiskan sesuatu dengan mempergunakan kata – kata yang sama artinya (
bersinonim ) untuk mempertegas arti.
Contoh :
1. Saya khawatir dan was – was dengannya.
2.
Bukan, bukan, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin bertukar
pikiran saja.
10.
Sinisme
Majas yang menyatakan sindiran secara langsung.
Contoh :
1.
Perkataanmu tadi sangat menyebalkan, tidak pantas
diucapkan oleh orang terpelajar sepertimu.
2. Lama-lama
aku bisa jadi gila melihat tingkah lakumu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar